Chapter 35

1.8K 160 5
                                        

Changed
.
.
.
.
.
.

Luna yang menaruh sepatunya dirak kemudian berjalan memasuki rumahnya yang diikuti oleh adiknya Lily. Dia berjalan memasuki kamarnya lalu menutup pintu sangat keras membuat Lily yang hendak ingin masuk kedalam kamar kakaknya menjadi terdiam mematung menatap kamar itu yang sudah tertutup rapat.

Diana yang mendengar suara keras pintu dengan cepat meninggalkan pekerjaannya yang tengah memotong sayuran,berjalan menuju kamar putrinya. Benar saja,saat dia sudah berjalan mendekat kamar putri sulungnya,Diana melihat Lily yang terdiam didepan kamar itu. Dia menjogkokkan kakinya,mengelus puncak kepala putri bungsunya.

"Lily kenapa?."tanya Diana.

Lantas,Lily memeluk sang Ibu,"Mah,memangnya Lily nakal ya?."tanyanya.

"Engga ko. Lily itu anak pintar dan baik."jawab Diana.

Lily menangis,"tapi ka Luna marah sama Lily."ucapnya.

"Engga mungkin ka Luna marah sama Lily. Ka Luna mungkin lagi cape aja."ucap Diana kepada Lily.

Diana berdiri kemudian menggendong Lily. "Mending Lily temenin Mamah masak."kata Diana seraya berjalan menuju dapur.

Lily tersenyum,gadis kecil itu sudah meredakan tangisnya. "Masak buat kak Luna."ujarnya senang.

Namun,dibalik itu Luna menangis karena dia merasa meluapkan amarahnya didepan adiknya yang tidak tau menahu tentang permasalahannya.

***

Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi.

"Ck,susah banget dihubungin."decak Joshua kesal.

Anak laki-laki itu lantas menaruh ponselnya dimeja,sedangkan dia merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya. Joshua melihat langit-langit kamarnya,pikirannya melambung pada keadaan Luna. Rasa kesal tetapi diselimuti dengan khawatirnya kepada gadis itu. Tidak seperti biasanya,gadis itu seperti menghindar atau mungkin hanya perasaannya saja.

Joshua memejamkan matanya,menjernihkan pikirannya seolah berpikir positif tentang gadis itu.

***
Hujan yang begitu deras membuat Hirata merasa begitu kesepian,wanita itu selalu merasa kesepian disaat hujan tiba. Entah,Setiap hujan selalu membuatnya teringat pada sesuatu,sesuatu yang mengganjal didalam lubuk hatinya. Hirata selalu kepikiran keadaan putra sulungnya ditambah kondisi sang ayah yang kian menua,dia sudah lama tidak menemui sang Ayah. Rindu itu pasti namun,untuk pergi menemui sang Ayah dia harus meminta izin dari sang Suami. Rudy selalu pergi disaat dia membutuhkannya.

Hirata beranjak dari sofa lalu berjalan menuju meja makan,dia mengambil dua potong roti kemudian memberi roti itu selai dan menaruhnya di piring. Dia menuangkan segelas susu sapi murni ke dalam gelas kemudian membawanya,menaiki anak tangga satu per-satu kemudian menaruh piring yang ditahan oleh tangan kirinya yang juga tengah membawa segelas susu lalu tangan kanannya membuka pintu, kamar itu sangat gelap. Hirata menyalakan lampunya,terlihat Joshua tengah tertidur dengan pakaian seragamnya yang masih dipakainya. Hirata menaruh piring dan gelas itu  diatas meja belajar Joshua,alih-alih dia akan terbangun dimalam hari karena lapar.

Selesai mengantarkan makan Hirata lantas mematikan lampunya kembali seraya menutup pintu kamar putranya. Dia berjalan menuju kamarnya.

***
Seorang pria tengah menatap layar monitor,matanya begitu jeli pada setiap huruf-huruf yang tengah diketiknya. Seorang wanita datang mengahmpirinya lalu memeluknya dari belakang.

Lantas pria itu tersenyum kemudian memberhentikan pekerjaaannya,"kamu belum tidur?."tanyanya pada wanita itu.

"Aku belum ngantuk."jawab wanita itu.

Pria itu kembali mengetik,jarinya begitu cepat bergerak.

Wanita itu melepaskan pelukannya,menarik kursi yang ada didekatnya lalu mendudukinya. Dia menaruh kepalanya dibahu pria itu.
"Aku sudah meminta izin pada kakekmu."ucapnya.

"Ng...Maksudmu?."tanya pria itu tak mengerti.

Wanita itu menghela nafas,"menurutku,kamu harus cepat memberitahu ibumu dan."katanya memberhentikannya.

"Dan?."

"Dan memperkenalkan aku pada ibu dan adikmu. Kau tau nenek ku selalu menelphone ku,dia selalu menanyakan apa kamu serius atau tidak."jelasnya.

Pria itu tersenyum,"Aku mencari waktu senggang untuk bisa kembali ke Indo."jawabnya.

"Jason,aku seperti ini bukan karena ke egoisan ku melainkan untuk menyelamatkan ibu dan adikmu."ucap Wanita itu yang merupakan kekasih Jason.

Sontak,Jason beralih menoleh kearah kekasihnya,"terimakasih telah mengkhawatirkan keluarga ku."Ucapnya kemudian mencium kening kekasihnya.

LDR  (Completed√)Where stories live. Discover now