[sudah dibukukan][tersedia ready stock]
"Akankah hari esok itu ada untuk kita?"
*Narasi Baku
*Dialog Non Baku
*AU
*Lokal settings
*Semi lokal name
*Harsh Words
*Gausah serius amat
"Kenapa ga mau makan?"tanyaku sembari mengisi sendok dengan nasi dan lauknya. Uh, aku persis ibu satu anak.
Benar sekali. Aku menyuapi bayi besar ini makan. Kami berdua duduk bersila di atas bangsal, saling berhadapan. Menunggui Soobin selesai mengunyah. Pipinya gembul sekali. Aku ingin melindasnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
SANHA BANGET GA SIH!?!? They're twins for some reasons.
Aku hanya diam menatapnya geli, lalu menepuk dahiku sendiri. Kepalaku tidak gatal, tapi tanganku bergerak dengan sendirinya untuk menggaruknya. Apa setiap orang yang otaknya rusak bertingkah begini?
Soobin lantas tertawa melihatku.
"Maunya kamu soalnya."jawabnya, kemudian menerima suapan sendok dariku.
"Giliran kemaren aja makan kaya bagong likethere is no tomorrow."
"But, there is tomorrow."
"Iya, untung aja."
Aku kembali menungguinya mengunyah. Matanya ia fokuskan untuk menonton tv. Benar-benar seperti berhadapan dengan anak kecil.
Ngomong-ngomong kami hanya berdua di sini. Om Joohyuk sedang keluar mencari makanan.
Mendengar nama makanan, aku jadi lapar. Akhirnya. Aku tidak sadar ternyata perutku sedang paduan suara di dalam sana. Membuat Soobin mengalihkan pandangannya padaku.
"Kamu laper?"
Aku mengangguk lalu menyuapkan sendok terakhir pada mulut Soobin, kemudian turun dari bangsal untuk menukar piring kotor ini dengan mangkok obatnya di atas nakas.
Kemudian mendudukkan diriku di tepian ranjang.
"Mau makan apa kamu?"
"Gatau. Enaknya makan apa?"
"Gatau. Kamu mau apa?"
"Gatau. Enaknya makan apa?"
"YAAAAAA GITU AJA TERUS."
Aku dan Soobin tertawa. Terasa seperti memanggil kembali memori lama. Kemudian, Soobin meraih air mineral pada genggamanku untuk ia minum hingga setengah.
Lalu memakan semua obatnya sekali telan seperti waktu itu.
Saat hendak minum, tiba-tiba ia kembali memuntahkan obatnya dari mulut. Untung saja aku memiliki refleks yang baik sehingga sisa obat itu sempat aku tampung dengan tisu.