23. Plan

6.3K 891 73
                                        

What will tomorrow be like?

a: I'm crazily attracted to you, even more

۵

Hari ini, semester dua sudah dimulai. Semester yang penuh dengan kesibukan ini akan benar-benar dimulai. Meskipun malas dan tahu hanya akan mondar-mandir tidak jelas, aku tetap pergi ke sekolah.

Seperti sekarang ini. Sudah tiga puluh menit dari upacara selesai, aku dan Minju hanya mengobrol sembari menikmati makaroni pedas. Minju sudah berderai air mata, tapi tak sedikit pun berhenti memakannya.

Selain itu juga, hingga detik ini, aku tidak melihat keberadaan Soobin di kelas, pun tasnya. Aku sudah mengiriminya pesan sejak selesai upacara tadi dan belum mendapatkan balasan. Apa dia tidak masuk? Tapi, Sanha tidak mengantarkan surat sama sekali?

"Ah.. Gila pedes banget!" Minju mengeluarkan lidahnya untuk ia kipasi. Nahasnya botol air minumnya juga sudah habis tak bersisa.

"Bagi minum, dong!"

"Gue mana pernah lah bawa minum."

Putus asa, Minju buru-buru bangkit untuk lari keluar. Aku berani bertaruh ia hendak membeli minum. Ia menarik Seungmin yang tengah berdiri bersama Jisung di depan pintu seperti boyband bersamanya.

Lagi dan akhirnya ku sendiri lagi karena sahabatku yang pergi~

Aku memutuskan untuk kembali mengirimi Soobin pesan. Tapi aku mengurungkan niatku saat aku melihat orang yang ku tunggu itu akhirnya datang dengan tas yang ia sampirkan pada sebelah bahunya. Ekspresinya datar seperti Squidward pada saat dahulu kala. Rambutnya berantakan. Wajahnya tidak segar, pucat seperti panda.

Biasanya dia akan cengengesan saat menegurku. Tapi kali ini dia hanya mengangkat alisnya sekilas sembari terus berjalan menuju mejanya. Ia pun segera menelungkupkan tubuhnya begitu bokongnya mengenai kursi. Apa ia benar-benar akan kembali menjadi Squidward?

"Bin. Bin! Soben!"

Tapi dia tak sedikit pun menoleh. Saat aku melempar sebungkus kecil makaroni yang tersisa, baru ia mengangkat kepalanya.

"Kamu kenapa?"

"Apa? Ga kedengeran?"

Di tengah suasana riuh kelas ini, memang cukup sulit berbicara dengan volume normal pada orang yang berjarak dua kursi denganku.

"Kamu kenapa?"

Alih-alih menjawab, Soobin malah bangkit untuk pindah duduk di sebelahku dan mengembalikan makaroni yang aku lempar tadi.

"Kamu nih pagi-pagi makan ginian."

"Ya gapapa."jawabku tak acuh sembari terus menikmati. "Kamu dari mana aja? Kok baru masuk?"

"Aku telat. Abis tuh dihukum suruh mungutin sampah."

"Yhaa kasian. Sanha juga dong?"

"Engga. Sanha pergi duluan. Aku naik motor jadinya."

"Gila, jahat."

Soobin hanya terkekeh.

"Kamu kenapa keliatan lesu banget?"

"Laper. Belom makan."

"Nih makan makaroni."

Aku hanya bercanda. Tapi ia benar-benar mengambilnya dan hendak membukanya. Aku lantas segera menariknya. Tidak semua orang dibekali dengan kemampuan menahan pedas di pagi hari. Dan Soobin tidak terlihat seperti itu.

"Katanya suruh makan?"

"Masa makan makaroni?"

"Tadi siapa yang nyuruh?"

Tomorrow | Choi Soobin [REVISED][COMPLETED]Donde viven las historias. Descúbrelo ahora