Part 24

68.6K 2.4K 126
                                        

Dari kejauhan, Gerald melihat Kathy yang termenung tampak melamun sedih sambil memegang sebuah pigura foto yang membingkai sebuah foto bayi yang sedang tertidur dengan pulas dan damai, foto yang diambil beberapa hari sebelum Anthony diculik.

Kedatangan telepon tadi pagi yang membuktikan bahwa dalang kejadian ini memang Robert Adams semakin memperparah keadaan Kathy yang tertekan karena kecemasan akan nasib anak mereka. Sudah lima hari berlalu sejak mereka keluar dari rumah sakit dan kemarin mereka baru saja kembali ke New York dirumah ayahnya.

Gerald benci dengan dirinya sendiri yang tidak berdaya melakukan apapun untuk melindungi keluarganya. Dia hanya bisa mencoba menghibur dan menguatkan hati istrinya agar tidak berpikiran buruk dan selalu optimis Anthony pasti akan bisa ditemukan. Namun, lima hari berlalu tanpa tanda-tanda berarti yang membuat mereka semakin frustasi.

Dilihatnya Kathy yang membungkuk diatas meja dengan tubuh berguncang dan menyadari wanita itu kembali menangis. Dengan geram, Gerald mengepalkan tinjunya menahan amarahnya yang sudah memuncak. Seolah tidak cukup menyiksa mereka, bajingan itu bahkan sengaja menelepon Kathy  seolah tidak ingin hidup mereka damai barang sekejappun.

Teringat olehnya kejadian tadi pagi,

Gerald baru saja turun ke dapur hendak membuat sarapan untuk Kathy dan membawanya kekamar ketika mendengar jeritan istrinya. Dengan panik, dia segera berlari menuju kekamar mereka yang untungnya jauh dari kamar ayahnya. Kathy baru saja bisa tidur menjelang pagi setelah kelelahan karena beberapa malam ini kurang tidur sama sekali.

Gerald mendekati  Kathy yang masih saja terus menangis dalam mimpinya dan mengguncang tubuhnya. Kejadian yang sama dengan beberapa bulan yang lalu hanya saja kali ini istrinya selalu memimpikan Anthony.

" Kate.... Kate....!!!" seru Gerald sambil mengguncangkan tubuh istrinya berkali-kali hingga kelopak wanita itu terbuka dan memandangnya nyalang. Gerald hampir menangis ketika melihat mata istrinya yang begitu menderita dan putus asa. Wanita itu menangis dan memeluk Gerald dengan erat. Sekujur tubuhnya gemetar ketika mengingat kembali mimpi yang menghantuinya setiap malam sejak Anthony menghilang.

" Itu hanya mimpi Kate. Semua hanyalah mimpi buruk saja." Gerald berbisik lirih dipuncak kepala Kathy namun wanita itu sekali lagi terisak.

" Aku takut Gerald. Mimpi itu begitu nyata. Lagipula sudah lima hari berlalu bahkan keberadaan Anthony sama sekali tidak terlacak. Lima hari. Waktu yang begitu lama dan bajingan itu entah sudah melakukan apa kepada anak kita." Wajah Kathy berurai air mata ketika menengadah menatap Gerald.

" Kamu tidak tahu Gerald, kamu tidak pernah menghadapinya. Namun, aku yang sudah hidup selama dua puluh tahun bersamanya mengenalnya dan tahu pria itu akan melakukan hal yang sama seperti diriku pada Anthony juga bahkan mungkin lebih kejam."Mata wanita itu kosong ketika dirinya seolah kembali ke masa lalunya.

Dan dari bibirnya mengalirlah kehidupan yang dijalani Kathy selama ini. Bagaimana dia harus hidup tanpa boleh menunjukkan emosi terutama belas kasihan, maaf juga kasih sayang dan cinta. Ketika orang satu-satunya yang mengasihinya di kediaman Robert Adams akhirnya diusir karenanya, bagaimana pada saat dia berusia delapan tahun dan diam-diam memungut seekor anak anjing yang dipeliharanya didekat hutan belakang sekolahnya, dan anak anjing itu mati dengan kepala terpenggal. Bagaimana akhirnya dia mengerti bahwa pada akhirnya dia tidak boleh mencintai karena semuanya akan direnggut darinya.

Semakin mendengar penuturan Kathy yang seolah masih kembali ke masa lalu, Gerald semakin emosi. Mungkin karena tekanan batin yang dialaminya membuat Kathy menumpahkan semua masa lalunya yang tidak akan pernah diceritakannya jika wanita itu dalam keadaan normal.

Under The MaskWhere stories live. Discover now