Suara debuman pintu kamar mandi mengejutkan Taehyung yang baru saja bangun dari alam bawah sadarnya. Ia segera beringsut bangkit begitu sebelumnya ia mengingat telah mendengar suara derak kaki yang berlari tergeaa menuju ruang serba putih di kamar. Mungkin ada sesuatu yang salah, pikir Taehyung. Bersama kelopak matanya yang masih berat, pria cantik itu menyibak selimut sebelum melangkah menuju pintu kamar mandi.
"Jungkook-ssi,"
Taehyung mengetuk pelan pintu kamar mandi, beberapa kali karena tidak ada jawaban dari sana.
"Jungkook-ssi? Kau baik?"
Taehyung mulai gelisah. Ia takut suaminya itu pingsan atau kenapa. Sebab, yang ia ingat semalam saat membuka pintu untuk kepulangan Jungkook, yang ia dapat adalah raut pucat dan lelah luar biasa. Jungkook pasti sakit, pikir ia saat itu. Maka dari itu, semalam ia segera meraih tas kerja sang suami, melepas dasinya cekatan, kemudian saat hendak mengusap wajahnya, Taehyung terkesiap, namun ia hanya bisa tersenyum tipis sebelum menutup pintu dan membiarkan Jungkook berjalan ke kamar lebih dulu.
Jungkook menepis tangannya.
Dengan kasar.
"Jungkook--"
Suara aneh dari kamar mandi semakin menakuti Taehyung. Jungkook muntah-muntah. Ada apa sebenarnya? Taehyung hampir menangis karena ia tak dapat berbuat apa-apa. Jungkook membutuhkannya, namun pria berambut hitam itu enggan membiarkannya masuk.
"J-Jungkook-ssi, a-apa aku harus panggil ibu kemari?" Taehyung masih setia berdiri di depan pintu, kini ia mendengar suara muntah ia semakin keras diantara berisiknya suara air dari kran. "A-Atau dokter Kang, sekarang?"
Taehyung gemetar, ia jadi ikut mual dan pusing karena Jungkook tak kunjung menjawab. "K-Katakan padaku, kumohon." linangan air mata Taehyung tak mampu dibendung lagi. "A-Aku memang tidak berguna, tapi ucapkan sesuatu agar aku tenang."
Cklek
"J-Jungkook-ssi!"
Satu dorongan keras mengenai bahu kiri Taehyung.
"Minggir."
Tapi Taehyung tidak peduli.
Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, selamat pagi, dokter Kang!" Taehyung memulainya dengan penuh keramahan namun ada getar ketakutan di untaian katanya. "Jungkook sakit, jadi..."
Kemudian, tubuh Taehyung terhempas sedikit ke belakang.
Jungkook merebut ponselnya dan membantingnya brutal.
Taehyung beringsut mundur saat tatap tajam itu seakan tepat menusuk kepalanya. Geritan rahang terdengar tipis namun menyeramkan. Taehyung terus mundur karena Jungkook semakin mendekatinya, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa lagi karena punggungnya membentur dinding.
"Jungkokk-"
PLAK!
"Berani sekali melakukan tindakan tanpa seizinku?!"
Taehyung menyentuh pipinya yang panas dengan jemarinya yang bergetar hebat. Ia menunduk dalam, luar biasa takut pada sang suami.
"Aku h-hanya khawatir..."
"Kalau khawatir cukup panggil Eunha saja kemari!"
"Kenapa harus Eunha?" taehyung berbisik, namun masih terdengar di pendengaran Jungkook. "Ada aku, istrimu, gunakan aku sebagai obatmu, sebagai penyembuhmu. Jangan Eunha, aku saja."
Taehyung terisak kecil, namun ia mencoba bersabar dengan keadaan. Jungkook menatap datar padanya, namun Taehyung tak berani menatap mata suaminya.
"Kau ingin aku menggunakanmu?"
BRAK!
Jungkook membenturkan punggung Taehyung pada dinding kamar. Si cantik membersit pilu, namun Jungkook kesetanan. Taehyung menahan kedua tangan Jungkook yang hendak membuka piyamanya, namun pria Jeon itu dengan kasarnya mencengkram kedua tangan Taehyung, itu menyakitkan, seperti hendak meremukkan tangannya.
"Tak berguna sepertimu sudah sepantasnya begini." Jungkook mengusap air mata yang mengalir dari pelupuk mata Taehyung. "Cukup jadi jalangku tiap hari. Itu salahmu karena mencintai iblis sepertiku."
Taehyung mendesesis lara, gigi tajam Jungkook mengoyak kulit lehernya hingga berdarah.
"Sakit...," Taehyung mencoba menjauhkan kuluman Jungkool dari lehernya, "A-Akh! I-Itu sakit,"
BUGH!
Taehyung terbatuk, perutnya merasakan mual hebat menghantam seketika. Kemudian disusul pukulan lain menghantam ulu hatinya dan juga sudut bibirnya yang teraliri cairan merah kental.
"Seperti ini caraku menggunakanmu." Jungkook membogem Taehyung tepat di wajah. "Ini menyenangkan, kau tahu?"
Taehyung menatap pilu seringai itu. Itu bukam Jungkook yang manis dan baik. "J-Jungkook-ssi, m-maafkan aku--"
BUGH!
Satu pukulan lagi menghantam perut Taehyung. "A-Ampun," Taehyung bergetar, tubuhnya sakit sekali.
Jungkook melempar Taehyung hingga istrinya itu membentur dinding kaca dan suara berisik pecah menggema. Taehyung jatuh, dihujani ribuan serpihan beling,
"Katakan sesuatu, Taehyung. Selain maaf dan ampunmu, katakan padaku sekarang!"
Taehyung menangis dalam diam. Ia menatap kosong pada kaki Jungkook yang semakin mendekat padanya. Kemudian tubuhnya diangkat paksa, masih lemas, namun suaminya itu menghempaskannya pada ranjang.
"Katakan padaku tentang kematian Eunha!" Jungkolm menatap nyalang padanya, Taehyung terdiam, pasrah. "Kenapa diam? Merasa bersalah?"
Taehyung memejamkan mata, lagi-lagi Jungkook menggigit lehernya hingga berdarah. "S-Sakit..."
Jungkook merobek piyama Taehyung, dan menjadikan tubuh itu polos tanpa benang.
"Kalau bukan karena budi Tuan Kim aku tak akan pernah menikahimu." Jungkook mencekik Taehyung, namun istrinya itu diam. "Kenapa diam? Merasa berhutang budi padaku sekarang?"
Taehyung mengangguk lemas.
"Maka tebuslah dengan tubuhmu."
Taehyung menjerit putus asa. Tangannya mencengkram kuat selimut tebal di bawah punggungnya yang lebam. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menangis dan terisak. Tubuhnya telonjak menyakitkan. Jungkook terlalu kasar. Seakan membunuhnya dengan tusukan miliknya yang keras dan besar tanpa pelumas. Mungkin berdarah juga di bawah sana. Rasanya terlalu kesat dan sakit.
Taehyung hanya bisa mendesah kemudian meringis sakit. Ia selalu mendapatkan hal seperti ini, mencoba meminta maaf lewat tubuhnya. Mereka memang sepasang yang sah, namun banyak belati yang Jungkook hunuskan padanya.
"Aku membencimu, Taehyung." Jungkook mempercepat gerakannya. Menggagahi Taehyung dengan kekuatannya yang tak main-main. "Aku tak peduli walau kau istriku sekalipun, yang pasti, aku membencimu."
"B-Berhenti!" Taehyung bergerak gelisah, di bawah sana seakan robek. "Akh--Berhenti, Jungkook-ssi, itu sakit!"
Jungkook menggeleng, ia membungkan mulut Taehyung dengan bibirnya. Suara erangan sakit teredam seketika dan Taehyung menangis kencang. Kedua tangannya mencakar punggung Jungkook dan memukuli dada pria itu yang masih berbalut baju.
Dan saat Jungkook meledak, Taehyung juga meledak.
Dan saat Taehyung terpejam karena kelelahan,
Jungkook pergi meninggalkannya.
.
.
.fireflees hiraeguk Clou3elf Kittyhyung neutaella Cornflakeszz zaet00
