aksara_kelam97
Delapan tahun setelah sebuah perkara pembunuhan dinyatakan selesai, muncul pengakuan yang mengguncang kembali keyakinan semua orang terhadap putusan yang pernah dijatuhkan.
Bima Permadi datang dengan pengakuan mengejutkan: ia mengaku bertanggung jawab atas kematian Laras Pramesti, seorang auditor yang ditemukan tewas setelah menyelidiki transaksi keuangan mencurigakan. Namun, pengakuannya justru menyimpan kejanggalan. Ia mengaku bersalah, tetapi tidak mengetahui siapa yang sebenarnya membunuh Laras.
Adrian Mahendra, seorang jaksa muda berusia dua puluh tujuh tahun, mulai menelusuri rangkaian fakta yang menghubungkan kematian Laras dengan perkara lama Damar Wicaksono. Semakin dalam ia menyelidiki, semakin banyak ketidaksesuaian yang ditemukan-dokumen yang berubah, kesaksian yang terabaikan, dan orang-orang yang memilih diam selama bertahun-tahun.
Di tengah penyelidikan, Adrian harus menghadapi kemungkinan bahwa perkara yang selama ini dianggap selesai mungkin dibangun di atas kebenaran yang tidak pernah sepenuhnya terungkap.
Bersama Nadine Arvella, seorang jurnalis investigasi yang memiliki kepentingan tersendiri terhadap kasus tersebut, Adrian berusaha memisahkan fakta dari dugaan, sekalipun setiap jawaban justru membawa mereka semakin dekat pada rahasia yang seharusnya tetap terkubur.
Sebab, dalam perkara ini, seseorang mungkin telah dihukum atas kejahatan yang tidak sepenuhnya ia lakukan. Seseorang yang lain mungkin menyimpan kebenaran. Dan orang yang paling mereka percaya belum tentu berada di pihak yang benar.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah keadilan masih bisa ditegakkan tanpa menghancurkan orang-orang yang selama ini memperjuangkannya?
Tidak semua pengakuan adalah kebenaran. Tidak semua putusan adalah akhir. Dan tidak semua orang yang bersalah akan berdiri di hadapan hakim.