azzatx
Raka Pradipta bukan pahlawan. Dia anak UPA Ganesha yang mata kuliah paling jago cuma Gambar Struktur.
Saat survei skripsi di Gunung Padang, void anomali magnetik di bawah Teras Lima membuangnya 1.852 tahun ke masa lalu. Tahun 174 Masehi. Jauh sebelum Kutai Martadipura, jauh sebelum Tarumanagara ada.
Dia mendarat di Kampung Buni, kampung kecil di tepi Ci Citarum yang populasinya 32 orang. Diare endemik, 1 dari 2 bayi mati sebelum umur 1 tahun, ladang berpindah gagal terus, dan tidak ada yang tahu cara bikin sabun.
Tidak ada cheat. Tidak ada status board. Tidak ada sihir.
Yang Raka tahu cuma ini:
Air harus direbus 5 menit. Sabun adalah lemak + abu. Tinja harus 15 meter dari sungai. Tanah liat + pasir + sekam dibakar 800Β°C jadi bata. Kapur + abu Gunung Gede jadi semen pozzolan Romawi.
Dari 5 hal sepele itu, Raka pelan-pelan mengubah 32 jiwa yang memanggilnya "Sila" (hantu) menjadi memanggilnya "Tukang" - orang yang membuat sesuatu yang belum ada.
Dia bikin jamban cubluk bambu pertama. Bikin sabun dari lemak babi hutan. Bikin kamus Buni-Indonesia 42 kata. Bikin lumbung panggung kaki bata yang menyelamatkan mereka dari paceklik. Bikin token tanah liat cap jempol sebagai uang pertama. Bikin aqueduct bambu 400 meter yang mengalirkan cai ulin - air yang tinggal lama.
Dan saat Kampung Cahaya akhirnya makmur, 20 pengayau dari Kampung Batu Gede datang dengan obor, ingin merampas semuanya.
Ini bukan cerita tentang orang modern yang langsung jadi raja. Ini cerita tentang 37 hari pertama Raka bertahan hidup, di mana membangun jamban lebih sulit daripada membangun istana.