bl0nd_oce4n
Suasana auditorium malam itu begitu riuh. Suara dengung ratusan siswa yang memenuhi ruangan luas itu memantul di dinding-dinding tinggi, menciptakan kebisingan yang membuat Sheina ingin segera pergi. Di atas panggung, persiapan acara penutupan tahunan sekolah sedang sibuk-sibuknya, kabel-kabel melintang dan sorot lampu panggung mulai diuji coba. Sheina duduk di barisan tengah, asik mengobrol dengan teman temannya, sampai sebuah suara bariton yang rendah namun jernih menginterupsi pendengarannya melalui pengeras suara. Ia mendongak. Di atas sana, seorang siswa laki-laki sedang berdiri di depan mic, menguji suara sambil memetik senar gitar dengan jemari yang tampak tenang. Cahaya lampu auditorium yang kuning keemasan jatuh tepat di bahunya, menciptakan siluet yang seolah memisahkan laki-laki itu dari keriuhan di sekitarnya.
Hanya butuh satu petikan lagu yang lembut untuk membuat Sheina terpaku. Di tengah keramaian manusia, tiba-tiba dunia terasa sunyi, menyisakan ia dan melodi yang sedang dimainkan di depan sana. Untuk pertama kalinya, Sheina merasakan dadanya bergemuruh karena rasa kagum yang asing dan menyesakkan. Ia tak tahu siapa nama laki-laki itu, tapi ia tahu bahwa setelah hari ini, sudut auditorium itu akan selalu punya cerita di ingatannya.