inthemiddlegalaxy
Ada kebenaran sunyi yang kerap terlupa: bahwa manusia cenderung membiarkan hal-hal paling berharga berlalu begitu saja, seolah waktu adalah milik abadi, hingga tiba saat di mana sisa hari dihitung dengan debar ketakutan.
Bagi Kimi Antonelli, dunia terbentang luas dan ramah, terbingkai aman selama George Russell menjadi jangkar di dalamnya. Abangnya itu bukanlah seorang pujangga yang fasih merangkai kata cinta; kasih sayang George menjelma dalam bentuk yang lebih senyap dan membumi-dalam kepulan uap sarapan yang tersaji tiap fajar, deru mesin mobil yang setia menepi selepas sekolah, omelan kecil pembungkus rasa cemas, serta pundak yang selalu terbuka untuk menampung lelah. Sebaliknya, di mata George, sang adik adalah pusaran kecil yang tak pernah tenang: remaja yang terlalu banyak merangkai tanya, gemar bermanja tanpa mengenal batas, dan selalu punya seribu satu cara untuk mencuri perhatian. Kimi adalah denyut nadi yang menghidupkan dinding-dinding rumah mereka, figur paling krusial yang diemban George dengan segenap jiwa.
Namun, di balik permukaan yang tampak biasa, ada jurang yang luput dari pengamatan.
Di tengah gelak tawa yang masih memantul di sudut ruangan dan rengekan yang terdengar familier, Kimi memikul rahasia berat. Sebuah kenyataan getir yang merayap diam-diam, terlalu kejam untuk ditanggung sendiri, namun terlampau menyayat hati untuk dibagikan kepada satu-satunya orang yang paling ingin ia lindungi dari lara.
Ketika pasir di dalam jam kuarsa kian menipis dan batas hidup mulai menyempit, ia tidak memilih ratapan. Kimi mengambil jalan paling sepi: merajut detik tersisa dan mengumpulkan kepingan memori terindah bersama sang abang, untuk disimpan rapat-rapat sebelum musimnya benar-benar habis.