feyarms
- Reads 458
- Votes 47
- Parts 13
Manhattan di Kota New York, sebagaimana digambarkan dalam film, adalah kota yang tak pernah tidur. Ruas-ruas jalan raya yang menghubungkan Midtown Manhattan dengan Upper East Side, mendekatkan Tribeca dengan Lower East Side, atau bahkan memandu wisatawan dari Chinatown menuju Litte Italy, tersimpan kebisingan yang tak pernah mati. Musik-musik mengalun, pejalan kaki dengan bir di tangan mereka, klakson-klakson kendaraan yang seolah memuntahkan amarah, bahkan pengguna subway yang berlari-lari untuk menghindari gelandangan-gelandangan pencopet sumbangsih mereka terhadap Kota New York untuk menegaskan gelar sebagai Kota yang Tak Pernah Tidur. Namun, di balik hiruk pikuk kota megapolitan yang tak pernah tidur, selalu ada sudut-sudut muram di mana keramaian kota justru berubah menjadi pengabaian yang menyakitkan.
Jeong Yunho telah terbiasa hidup melarikan diri dan bergantung pada euforia palsu yang diciptakannya sendiri setelah segala hal dalam hidupnya tak berjalan dengan baik, sampai ia bertemu Song Mingi. Pemuda muram yang selalu mengenakan jaket kebesaran untuk menutupi kepalanya dengan tudung dan lengan jaket yang terlalu panjang untuk menutupi jari-jari tangannya. Mulanya, Yunho tak ambil pusing dengan kehadiran Mingi, toh pemuda itu hanya pelanggan biasa di bistro jelek tempatnya bekerja baru-baru ini. Akan tetapi, Mingi memiliki sisi yang mengetuk rasa penasaran Yunho. Lantas, mengubah rasa penasaran itu menjadi bongkahan simpati.
Song Mingi, si muram yang selalu termangu di meja bistro yang sama tanpa teman makan siang, tidak pernah berbicara kepada siapa pun di bistro. Kepada pelayan pun, ia hanya berkomunikasi melalui secarik kertas hingga Yunho mengira pemuda itu Tuli. Maka, ia selalu menggunakan bahasa isyarat atau kertas yang terbatas untuk berkomunikasi dengan Mingi.
Namun, Yunho tak pernah tahu, diamnya Mingi adalah refleksi atas rahasia menyedihkan dan trauma mendalam yang bermuara pada cara yang sama Yunho mencapai puncak euforia.