dikalanila
Aksa tidak berniat untuk mengingat Noni. Ia hanya terjebak dalam kebijakan non-refundable-nya, lagi dan lagi. Hal tersebut membuatnya bertanya-tanya ... jika sungguh terjebak, kenapa tak bisa mengelak?
--
Semua dimulai dari sebuah bola basket dan segelas jeruk kecut.
Untuk pertama kalinya, Aksa bertemu tatap dengan gadis itu. Alisnya lentik dan matanya cantik. Parasnya manis. Tapi sayangnya tak sampai membuat jeruknya tak lagi kecut, sebab gadis itu kemudian cemberut.
Sial, kenapa pikirannya jadi melantur begini? Gadis itu masih berdiri di hadapannya, menyodorkan tangan sambil berkata, "Ayo, bayar utang lo."
Aksa mengerjap. 'Trik marketing,' pikirnya ketika pertama kali hal ini terjadi. Entah kenapa, ia membiarkannya terulang lagi. Seolah gagal mengingat bahwa ia sudah mengingat-ingat untuk tidak mengingat gadis itu.
Kini ia terperangkap dalam kebijakan no return, non-refundable.
"Besok, ya," katanya.
Besok, Aksa tahu mereka akan mengulang skenario seperti ini. Besok, Aksa akan mengingat-ingat untuk tidak mengingat gadis itu lagi. Besok, gadis itu akan hadir, dan dengan segala upayanya yang tak pernah gagal, membuat Aksa mengingat kembali.
Kursi kayu itu menjadi saksinya. Sebelum waktu menunjukkan pukul lima sore.
Cerita ini tentang Aksa dan Noni, dan segala sesuatu yang terjadi di antara mereka, dimulai dari sebuah bola basket dan segelas jeruk kecut.