Rizky_Fadillah2
- Reads 425
- Votes 74
- Parts 32
Mereka tidak pernah memilih untuk saling jatuh cinta. Perasaan itu tumbuh melalui percakapan yang awalnya biasa saja, sampai rasa nyaman yang datang perlahan, lalu menetap tanpa permisi. Segalanya terasa sederhana saat itu. Hanya ada hanya dua hati yang saling memahami, serta saling menguatkan dalam diam.
Namun takdir tidak berhenti pada pertemuan yang manis.
Ketika dua keluarga dipersatukan oleh sebuah pernikahan. Segalanya berubah dalam sekejap. Hubungan mereka kehilangan tempatnya. Mereka dipaksa untuk berdiri dalam satu rumah dengan status yang tidak bisa ditawar, saudara tiri.
Bukan karena mereka salah. Melainkan karena hidup memilih jalan yang sama sekali tidak mereka minta, jalan yang memaksa perasaan tunduk pada aturan, dan hati belajar diam meski belum siap.
Hati siapa yang tidak hancur?
Dalam diam, mereka belajar berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. Belajar tersenyum ketika bertemu, meski dada terasa sesak oleh sesuatu yang tidak boleh disebut. Dalam diam, mereka mengubur perasaan yang dulu tumbuh begitu indah, bukan karena perasaan itu mati, melainkan karena ia tidak diizinkan untuk tumbuh lebih dalam.
Setiap kenangan berubah menjadi luka kecil yang harus disembunyikan. Dan setiap tatapan menjadi medan perang antara rindu yang ingin mendekat dan kesadaran yang memaksa mundur.
Dalam doa, mereka mencoba melepaskan. Mereka memohon agar perasaan itu memudar. Namun doa tidak selalu menghapus rasa, terkadang ia hanya memberi kekuatan untuk menahannya, untuk tetap berdiri meski jiwa terasa remuk.
Di tengah pergulatan batin yang tidak pernah selesai, mereka mulai memahami satu kebenaran yang paling pahit. Takdir memang bisa mempertemukan, tetapi waktu memiliki caranya sendiri untuk memisahkan. Dan di sinilah cerita ini berdiri.