alfar_nebulis
Di usianya yang baru tujuh belas tahun, Faqih Aksara Karim (Aksa) sudah menggenggam dunia. Sebagai CEO muda yang memimpin cabang perusahaan internasional milik ayahnya, hidup Aksa kini habis untuk angka, saham, dan ambisi duniawi.
Padahal sejak kecil, Aksa bersama sahabatnya, Akyasa Fatih (Akyas), telah digembleng dengan didikan agama yang luar biasa ketat oleh Baba Ziad.
Kitab-kitab klasik dan ilmu kepesantrenan tingkat tinggi sebenarnya sudah mereka kuasai di luar kepala.
Namun, beberapa minggu terakhir, kilau dunia bisnis membuat Aksa berubah. Dia terlalu sibuk, bahkan berkali-kali mengabaikan ajakan Akyas untuk kembali duduk bersama dalam majelis muzakarah.
Hingga akhirnya, Akyas datang bukan untuk mengajak mengaji, melainkan membawa peringatan keras yang meruntuhkan benteng kestabilan Aksa. Pondok Pesantren Modern Al-Karim-warisan suci kakek Aksa yang kini tengah sakit di luar negeri-sedang sekarat di ambang kehancuran.
Di bawah kendali sang paman, Gus Syakir, tanah wakaf digadaikan, kurikulum melenceng, dan jeritan para santri yang menjadi korban kekerasan serta pelecehan dibungkam dengan rapat. Tak ada yang berani bersuara di balik tembok kokoh pesantren itu.
Aksa dipaksa bangun dari kelalaiannya. Dia harus menanggalkan setelan jas mewahnya untuk kembali ke jalur yang sempat dia abaikan. Bersama Akyas, dia memasuki Al-Karim sebagai santri biasa. Menggunakan bekal ilmu agama terpendamnya dan kecerdasan taktik bisnisnya, Aksa siap merebut kembali takhta yang menjadi hak ayahnya, sekaligus meruntuhkan topeng takwa para penguasa zalim.