ubi_mati
- Reads 1,455
- Votes 107
- Parts 3
Nara mencintai dengan cara yang tidak biasa.
Ia tegas. Posesif. Kadang terlalu keras.
Baginya, cinta bukan hanya tentang pelukan dan kata manis - tapi tentang aturan, batas, dan konsekuensi. Jika Phuwin melakukan kesalahan, Nara tidak ragu memberi "hukuman kecil" sebagai pengingat bahwa hubungan mereka harus dijaga.
Phuwin sering mengeluh, sering merasa kesal dengan sifat Nara yang terlalu mengatur.
Namun anehnya, ia tidak pernah benar-benar ingin pergi.
Karena di balik tatapan tajam dan sikap keras itu, Nara selalu jadi orang pertama yang khawatir saat Phuwin sakit.
Orang yang diam-diam memastikan ia makan tepat waktu.
Orang yang paling takut kehilangan, meski tak pernah mengakuinya.
Hubungan mereka penuh perdebatan kecil, cemburu yang tak terucap, dan ego yang sama-sama tinggi. Tapi di antara semua itu, ada tawa yang tidak pernah habis. Ada genggaman tangan yang selalu kembali menemukan satu sama lain.
Cinta mereka mungkin tidak sempurna.
Kadang terasa seperti obsesi.
Kadang seperti hukuman.
Tapi bagi Nara dan Phuwin, selama mereka masih bisa saling menatap dan berkata "jangan pergi", semuanya terasa cukup.
Karena bagi mereka, cinta bukan tentang siapa yang paling lembut.
Melainkan siapa yang tetap memilih tinggal.