naratorpanas
- Reads 20,427
- Votes 66
- Parts 24
Siti Aisyah, 38 tahun, istri ustadz kampung di pinggiran Jakarta. Jilbab lebar hitam selalu dipakai, gamis longgar nutupin tubuh tobrut cup I yang berat dan penuh susu. Susunya nggak pernah berhenti produksi sejak lahirin anak tunggalnya, Reza (21 tahun, kuliah semester akhir). Setiap pagi, bra-nya basah susu, puting besar cokelatnya sensitif banget, sering tetes sendiri kalau gerak cepat. Dia malu, selalu sembunyiin, pakai pembalut payudara tebal, tapi tetep bocor kadang-kadang.
Suaminya, Pak Umar, sering dakwah keluar kota 3-4 hari seminggu. Rumah sepi, cuma Aisyah dan Reza yang jarang pulang karena kos deket kampus. Tetangga baru, Andi (19 tahun, anak bandel tapi ganteng, suka ngintip cewek berjilbab), langsung ngebet Aisyah. Dia sering liat Aisyah nyapu halaman, dada bergoyang, noda susu samar di gamis.
Suatu sore, Andi datang minta tolong bantu angkat barang ke rumah kontrakan. Aisyah baik hati bantu, jongkok angkat kardus, gamis naik sedikit, dada tobrut bergoyang. Andi sengaja dorong kardus, Aisyah jatuh ke pelukannya, dada menempel keras. Andi rasain kelembutan dan kehangatan susu yang bocor tipis.
Malamnya, Andi kirim foto candid Aisyah lagi ngajar ngaji anak tetangga, zoom ke dada basah susu. Pesan: "Ummi, susunya keluar ya? Pasti enak kalau dihisap..."
Aisyah kaget, hapus, blokir. Tapi malam itu dia gelisah. Saat ganti baju, putingnya mengeras ingat sentuhan Andi tadi. Dia peras pelan sendiri, susu muncrat deras ke wastafel, badannya gemetar orgasme kecil.