Mut_iya
Sejak kepergian Ayah dan Ibu, hidup Sadewara berubah dalam semalam. Di usia ketika teman-temannya sibuk mengejar mimpi, ia justru harus belajar menjadi kepala keluarga bagi keempat adiknya: Nawasena, Ranaditya, Kalandra, Atharva yang masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan.
Sadewara mengubur mimpinya sedikit demi sedikit. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk menikmati masa muda, ia tukarkan dengan pekerjaan, dan tanggung jawab. Setiap langkahnya dipenuhi perjuangan demi memastikan adik-adiknya tetap bisa bersekolah, tertawa, dan bermimpi.
Bagi dunia, ia hanyalah seorang kakak.
Namun bagi adik-adiknya, ia adalah rumah yang tak pernah pindah, pelukan yang selalu menenangkan, dan bahu yang tak pernah menolak beban.
Tak seorang pun tahu berapa banyak air mata yang ia sembunyikan di balik senyum, atau berapa banyak doa yang ia panjatkan setiap malam agar Tuhan memberinya sedikit lagi waktu untuk menjaga mereka.
-Karena terkadang, bahu yang paling kuat adalah bahu yang paling jarang mengeluh-