Lazyrosse
- Reads 6,894
- Votes 192
- Parts 3
"Sialnya aku hidup di tempat yang tidak seharusnya aku singgah, dunia terlalu kejam untukku."
"Tuhan aku menyerah, bawalah jiwa yang hancur lebur ini."
Di sudut kota Semarang yang pengap oleh persaingan hidup yang keras, tersimpan sebuah kisah yang tak pernah dibicarakan dan berdiri sebagai bayangan yang layu. Nayanika Anindya Pradipta-Gadis lugu itu seharusnya menikmati masa-masa SMA nya namun, orang lain termasuk teman-teman sekelasnya memandangnya sebagai anak memiliki pribadi yang buruk dan lemah dalam bersosialisasi.
Dia tertarik terhadap dunia seni tari. Naya adalah permata-kecintaannya pada seni tari mengantarkan Naya menjadi siswa mengukir prestasi gemilang bagi nama baik sekolahnya. Tapi segala pencapaian Naya selalu disambut remeh oleh sang ibu tiri. Prestasinya hanya dianggap sampah dan bakat rendahan. Apa hebatnya jadi penari?
Di saat anak remaja lain selalu didukung dan disayang oleh ibunya, bagi Naya kasih sayang ibu adalah sesuatu yang tak pernah terbeli.
Saat orang tuanya bertengkar, Naya sebagai anak sulung, hanya bisa mendekap erat raga lemah adiknya yang berusia tiga belas tahun masih duduk kelas tujuh SMP, mencoba menyumbat telinga sang adik agar pertengkaran ini tidak merusak masa kecilnya.
"Kak, kapan mereka berhenti teriak?"
"Nggak lama lagi, Ayla." Air mata Naya jatuh tanpa permisi dan jatuh ke kepala adiknya yang dipeluk. Tetapi ia harus kuat di depan adiknya.
Di sekolah, Alana-dia menganggap Naya adalah barang yang boleh ia rusak, injak, dan siksa demi kepuasan akan dendam yang tersimpan di lubuk hatinya.
Naya membawa semua luka itu sendiri. Tidak ada tangan yang mengulur. Tidak ada bahu yang menawarkan untuk bersandar.
Tapi mengapa? Padahal ia memiliki pribadi yang sangat baik, kalem, dan lembut. Apakah itu terlalu sampai dunia menghakiminya?
[Maaf jika masih ada typo bertebaran, karena masih belum selesai dan masih tahap revisi]
Start: 27-02-2024✓
Finish: ?
--