jalilfunny
- Reads 2,747
- Votes 375
- Parts 17
Delapan bulan bukan waktu yang sebentar untuk menyembunyikan cinta sampai terasa seperti dosa.
Di lorong-lorong Universitas Negeri Harapan Bangsa, Estu selalu berjalan beberapa langkah di belakang Willy. Bukan karena malu, melainkan karena begitulah cara hubungan mereka bertahan. Diam-diam. Sunyi. Tidak boleh terlalu dekat. Tidak boleh terlalu terlihat saling memiliki.
Padahal, Estu hafal semuanya tentang Willy.
Tentang suara bass-nya yang mampu menenangkan kepalanya di malam paling buruk. Tentang tangan besar Willy yang dulu selalu menggenggam jemarinya erat seolah takut kehilangan. Tentang tatapan hangat yang perlahan berubah asing beberapa bulan terakhir ini.
Kini Willy lebih sering sibuk bersama sorak ramai di lapangan basket, pujian dari banyak perempuan, dan rumor yang mulai berbisik di setiap sudut kampus. Nama Hanna ikut terseret di antara jarak yang semakin dingin. Sementara Estu hanya bisa menelan cemburu sendirian, berpura-pura baik-baik saja setiap kali Willy berkata, "Aku lagi sibuk."
Yang paling menyakitkan dari diabaikan bukanlah kesepian.
Melainkan saat seseorang masih memelukmu dengan hangat, tetapi perlahan membuatmu merasa tidak lagi dicintai.
Dan Estu mulai lelah menunggu kepastian dari hubungan yang bahkan tidak pernah berani disebut secara terang-terangan.