louvieta_
- Reads 14,785
- Votes 717
- Parts 12
"Di bawah langit Jeju yang runtuh, kami belajar bahwa bertahan hidup bukan hanya tentang menjaga jantung tetap berdetak, tapi tentang menolak melupakan cara mencintai."
Bagi Sabiru, Kaelan, Kavi, dan Renoa, Korea Selatan awalnya adalah sebuah mimpi yang mewujud dalam lembaran beasiswa penuh. Mereka datang dari sudut-sudut Thailand yang berbeda-membawa dinginnya udara utara dan hangatnya pesisir selatan-untuk menenun masa depan di negeri orang.
Mereka bernapas di bawah langit Seoul yang sama, namun hidup sebagai orang asing yang tak pernah saling bertegur sapa. Hanya Kaelan dan Kavi yang berjalan beriringan, terikat oleh benang persahabatan lama yang tak kasat mata.
Jeju yang dijanjikan sebagai pelarian manis dari penatnya kuliah, justru berubah menjadi panggung sandiwara yang mengerikan dalam semalam. Ombak yang tenang berganti jeritan, dan bentang alam yang indah terkoyak oleh wabah tanpa nama. Manusia-manusia di sekitar mereka runtuh, lalu bangkit kembali sebagai makhluk asing yang kehilangan jiwanya-hanya digerakkan oleh rasa lapar yang pekat.
Terjebak di pulau yang terisolasi, Kaelan dan Kavi dipaksa melintasi batas ketakutan mereka. Dalam pelarian yang berdarah, takdir mempertemukan mereka dengan raga-raga lain yang sama-sama di ujung tanduk, Sabiru dengan ketangguhannya yang sunyi, Renoa yang menyimpan rapuh di balik binar matanya, Zora yang lincah menantang maut, serta Lyra, gadis dingin yang menyimpan teka-teki di kepalanya.
Di antara puing-puing peradaban yang terbakar dan ribuan langkah monster yang memburu nyawa, ego mereka harus melebur. Menjadi asing bukan lagi pilihan ketika satu-satunya cara untuk melihat hari esok adalah dengan saling mempercayakan sisa napas.
Sebab di dunia yang perlahan mati, batas antara manusia dan monster menjadi begitu tipis. Dan di bawah bayang-bayang bulan merah yang mencekam, mereka harus memilih, mati sebagai mangsa, atau bertahan hidup meski harus kehilangan bagian terbaik dari kemanusiaan mereka.